.quickedit{ display:none; }

June 06, 2014

[FANFICTION] [CHANBAEK/BAEKYEOL] Love is Not All Around, Chapter III

Chapter Three

Home sweet home.

Rumah yang kutinggali selama belasan tahun ini belum sedikit pun tersentuh oleh gaya rumah modern pada umumnya. Seisi rumah mencoba untuk memperbarui perabotan rumah mulai dari sofa, kursi, ranjang, dll, sekali dalam sebulan. Dua tahun belakangan aku tidak melakukan aktivitas ini seperti biasanya karena satu motto..

Tiada hari tanpa belajar.

Kamarku lumayan menarik. Tampilan dan perabotnya aku yang merancang dan mengaturnya sendiri, dengan referensi di internet. Sentuhan wallpaper yang cukup lovely menimbulkan kesan bahwa aku ternyata anak tunggal yang terlalu polos untuk dikotori. Aku sering menghabiskan waktu luang bersama temanku dengan menonton film, bermain game, atau hanya sekedar tidur.

Aku merebahkan diriku di atas kasur yang luas setelah keluar dari kamar mandi untuk konser solo. Ingatanku kembali mengingat sosok Park Chanyeol yang terlihat sangat ceria setiap saat. Happy virus, Teeth rich, julukan-julukan itu terlalu cocok bagi dia. Tetapi aku sangat bodoh, bukan? Terlalu bodohnya aku juga nomor handphone kak Chanyeol aku tidak mendapatkannya.


--

Kyungsoo, sosok tatapan kosong itu ternyata tinggal tidak jauh dari sekolahku. Butuh tiga atau lima menit untuk tiba di rumahnya jika hanya berjalan kaki dari sekolah. Aku sering mengunjungi rumahnya sepulang sekolah untuk meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas dan berakhir tertawa terbahak-bahak saat salah menggunakan rumus. Kalian tahu, akulah sosok yang paling muda di sekolah, jika dilihat dari tingkah laku.

Kyungsoo juga akrab dengan beberapa temanku, seperti Luhan dan Minseok. Oh ya, sekolahku sangat cocok dengan gelar International School. Bagaimana tidak? 30% siswanya berasal dari luar Korea atau blasteran Korea. Luhan lah salah satunya. Luhan, sosok yang disebut-sebut sangat jantan ternyata hanya omong kosong. Luhan sangat cantik, bahkan siswa di sekolahku tidak malu-malu untuk mendekatinya. Aku dan Jongdae pasti meninggalkan kelas lebih dahulu sebelum jam pelajaran usai kalau ada siswa atau siswi yang meneriakkan namanya di sudut mana pun. Luhan tergolong pintar di fisika, dan akhir-akhir ini lebih fokus dengan kelas musik dan sepak bola.

Aku masih ingat hari-hari pertama Luhan di sini. Dia dijuluki Village Boy Next Door dan sama sekali tidak mengerti dengan perkembangan teknologi, olahraga lelaki seperti sepak bola pun ia tidak tahu. Kelas sepak bola pertama kami itu dimulai dengan kiper Luhan yang gagal menjaga gawang, dan itu membuatku tertawa sampai harus keluar-masuk toilet.

Minseok, hingga hari ini aku bingung dengan umurnya. Dia seperti balita yang terperangkap dalam tubuh lelaki mungil berumur remaja, berbau bedak bayi, aku dan Jongdae sering mengganggunya, dengan hasil kami berdua ditraktir sepuasnya di kantin. Minseok sangat jago dengan mata pelajaran perhitungan, sama dengan Luhan. Dia pernah menjadi class president selama dua tahun dan selalu mendapat gelar siswa teladan selama aku di sekolah ini. Dia juga lumayan akrab dengan Luhan, jadi wajar jika Minseok dan Luhan sangat mengejar kedudukan bergengsi tersebut.

--

22:00

"Baekhyun, itu makan malammu sudah ibu simpan dekat meja. Jangan lupa dimakan! Ke kamar saja jika kamu butuh ibu", seru Ibuku selesai menyiapkanku makan malam.

Seisi rumah sudah tahu tanda-tanda kehidupan di kamarku belakangan ini. Jika lampu utama di kamarku masih menyala, itu tandanya aku masih sibuk dengan urusan yang tak penting. Lampu berwarna jingga menandakan bahwa aku akan menulis belasan bahkan puluhan lembar pekerjaan rumah. Dan tak ada cahaya di kamarku bertanda aku telah tidur pulas dengan menggunakan kantong tidur yang biasa digunakan outdoor.

Aku biasanya memakan makananku paling cepat 30 menit setelah disajikan, sebenarnya tergantung.

Namun hari ini sangat baik, aku memakannya dengan lahap. Memakan kimchi dan nasi putih panas malam ini serasa bermain di bawah winter sea yang aneh suhunya lebih tinggi dari musim dingin apapun.

--

00.00
15 Januari 2013

"Byun Baekhyun, sudah malam kau masih saja menggangguku", gerutu Kyungsoo saat aku menelfonnya.

"Tak apalah. Tapi kau harus lebih sering membantuku. Ini bukan masalah fisika yang mengharuskan kita untuk menghitung berapa kekuatan lensa yang harus aku gunakan karena mataku butuh kaca.", jelasku.

"Dan apa lagi masalahmu?", tanya Kyungsoo.

"Ini mengenai Matematika. Peluang"

"Ya Tuhan, apakah kau tolol? Materi segampang peluang saja kau tidak paham", tawa ejekan Kyungsoo langsung menusuk telingaku.

Dan satu lagi, peluang dalam matematika sudah aku pahami lebih dahulu darinya.

"Kyungsoo, tenang! Peluang kapan kartu As merah atau kapan dadu tujuh akan muncul itu bisa aku tentukan. Bahkan peluang untuk melemparmu besok pagi sudah ada di tanganku. Namun peluang untuk mendapat hatiㅡtidakㅡakrab dengan kak Park Chanyeol itu susah", tuturku sambil mengantur nafas.

"Baekhyun, apakah kau menyukai kak Chanyeol?"

Tidak ada suara yang terdengar di seberang.

"Baekhyun!"

Tidak ada.

"Jika ada perlombaan untuk malam ini. Kaulah pemenang lomba tidur tercepat, Byun Baekhyun"

Kyungsoo memutuskan telefonnya, dan aku berpura-pura tidur agar Kyungsoo penasaran.


Jika aku tidak menyukai kak Chanyeol, sejarah jenis apapun tidak akan menceritakan bahwa 15 Januari 2013 pukul 00.00, Byun Baekhyun menghubungi Do Kyungsoo.

--

07.15

Hari ini aku memilih untuk ke sekolah dengan bersepeda, sekali-kali untuk memanjangkan kaki. Hari pagi yang ingin kulalui dengan bahagia seketika hancur ketika Jongdae meneriakiku, mengejarku, dan langsung menumpang di sepedaku.

"Astaga Kim Jongdae, bisakah aku melambaikan tangan? Baru kali ini kau membuatku hampir jantungan", ucapku dalam hati.

Aku terdiam di atas sepeda. Jongdae dengan wajah anehnya langsung berkata, "Baekhyun, apakah kau mau terlambat? Sepuluh menit lagi jam pertama dimulai dan kau masih saja merenung"

Terlambat? Apa Jongdae baru saja mengatakan kata menjijikkan itu?

Satu lagi, aku benci terlambat.

Aku langsung mengayuh sepedaku secepat kilat. Secepat apapun itu, kata-kata aneh dari penumpang gila ini sangat cepat. Dia terus saja memukul belakangku agar memperlambat laju sepedaku.

Tiga menit sebelum jam pertama dimulai, aku dan teman yang lain sudah sibuk membicarakan tentang malam penamatan yang dirangkaikan dengan pengumuman kelulusan serta siswa yang mendapatkan kupon untuk bebas tes SMA. Rasanya seperti kemarin aku baru bertemu dengan mereka.

Oh ya, aku ada cerita sedikit mengenai malam penamatan. Malam ini selalu diadakan Sabtu malam. Malam ini juga mewajibkan semua siswa-siswi untuk datang dan mengenakan jas bagi siswa dan gaun bagi siswi sesuai dengan dress code yang disepakati. Malam ini juga cukup seru karena siswa yang dulunya sangat tertekan atas omelan guru bisa berdansa ria diiringi musik. Siswa yang mengukir nama sekolah di luar juga boleh memberi persembahan terakhir, entah itu menyanyi, membaca puisi, ataupun berdrama.

Namun spesial untuk kami bersebelas--Baekhyun, Jongdae, Kris, Minseok, Luhan, Kyungsoo, Jongin, Junmyeon, Yixing, Sehun, Zitao--memiliki dress code tersendiri, dikenal dengan "dress code kesebelasan".

Sebenarnya, kami bersebelas itu bukan satu angkatan karena ada yang memiliki perbedaan umur satu sampai empat tahun. Entah ada apa dengan sekolah ini sehingga kami bersebelas bergabung sebagai satu angkatan. Aku belum terlalu mengenal Sehun dan Zitao lebih. Mereka berdua lebih memilih berbelanja bubble tea di belakang sekolah dibandingkan berkumpul untuk mengikuti latihan.

--

10.30

Istirahat pertama tiba, momen dimana semua siswa langsung berlarian ke penjuru sekolah.

Awal jam di sekolah hari ini berlalu santai. Materi yang diajarkan sangat mudah dipahami, kau tahu lah haha.

Aku dan Minseok secara kebetulan bertemu di depan kelas.

"Hei, Baekhyun! Apakah kau tidak ke sanggar? Yang lain menunggu kita berdua".

"Untuk apa ke sanggar sekarang? Lalu, mana Jongdae?", aku terheran mendengar apa yang baru saja dikatakan olehnya kepadaku.

"Ada satu hal yang harus dibicarakan. Lah, kau tidak tahu? Jongdae sudah meninggalkan kelas saat kau tertidur", jawab Minseok.


"Ayo, kau tunggu apa lagi?"

0 comments: