Chapter Two
Di saat kakak tinggi itu mulai memperkenalkan diri, aku merasakan ada yang aneh pada diriku. Jantung yang mulai berdegup kencang, keringat dingin membanjiri seluruh tubuh, mulut yang sangat sulit untuk mengucapkan kata-kata.
Untuk pertama kalinya, dia berbicara kepada semua temanku.
Namanya terdengar mirip dengan namaku.
"Aku Chanyeol, Park Chanyeol. Kalian terserah mau memanggilku apa, yang terpenting aku akan menoleh jika dipanggil Chanyeol"
Park Chanyeol, Byun Baekhyun..
Park Chanyeol, Byun Baekhyun..
Awal dari cinta adalah perkenalan. Aku terus mengulang kedua nama tersebut, mencoba menyimak apa saja yang terlontar dari bibirnya. Tak kusadari pula bahwa kakak itu memiliki suara yang lebih dalam, dalam, dan terlalu dalam bagi lelaki berumur 20 tahun seperti dia. Tatapan kakak itu membuatku yakin, bahwa hanya dialah yang mampu menjadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku.
Satu lagi, dia bukanlah penduduk asli Seoul.
"Kak Chanyeol sekarang kuliah dimana?"
"Kak Chanyeol pasti udah punya pacar"
"Kak Chanyeol tinggal dimana? Ajak jalan-jalan di winter sea dong"
Kak Chanyeol begitu mudah beradaptasi dengan keadaan kelasku yang baru ia tapaki sepuluh menit yang lalu. Dia mulai memperlihatkan kepribadiannya yag sangat ceria. Senyum 100 watt sempat tersungging di raut wajahnya, yang mungkin bisa membuatku kesetrum bahkan meninggal.
"Winter sea? Kalo ke winter sea berarti kalian bisa ke rumah kakak. Deket malahan", jawab kak Chanyeol.
Winter sea..
"Don't you dare to say 'winter sea' in front of this Baby Baek. He will crying all day long, right?"
Entah demi apa Jongdae tiba-tiba berteriak seperti itu di saat aku memang ingin menangis jika ada yang berkata 'winter sea'.
"Eh Baby Baek marah ya? Sini kakak beliin hape baru. Mau yang mana, iPod? Piih saja yang kamu suka", Kim Junmyeon, siswa yang katanya terkaya seantero negeri, mencoba menggodaku agar tidak cemberut.
"Sudahlah. Kenapa ini harus diperdebatkan? So pasti, kak Taeyeon dan kak Chanyeol bakalan jadi kakak yang paling baik. Oke?", Luhan, siswa yang katanya paling maskulin dan pendiam, tiba-tiba menjadi penengah.
Akhirnya hujan reda. Kami semua langsung keluar dari sekolah dan mengambil bus untuk pulang ke rumah masing-masing. Memandang jauh ke belakang di saat teman-temanku sudah seperti anak kecil yang mengejar permen gratis, aku melihat kakak tinggi--tidak--kak Chanyeol sedang bersiap-siap untuk kembali dari sekolah.
Dan aku lupa satu hal, nomor teleponnya.
Langkahku terhenti saat mengingat bahwa aku melupakan satu hal yang penting itu. Aku tak ingin beranjak dari titik ini sampai kak Chanyeol lewat di samping kananku, membuat keringat dingin bercucuran tak terkontrol. Dia memanggilku 'adik' saat dia menoleh ke arahku. Rasanya mulut ini ingin berteriak agar selamat sampai tujuan namun, ah sudahlah.
Setelah itu, aku terdiam seperti batu, hingga Jongdae langsung menyeretku dan naik di atas bus. Rupanya mereka menungguku. Demi apa, haha.
"Jongdae, tumben kamu tungguin aku. Biasanya kamu yang hasut yang lain buat ninggalin aku. Dan oke aku selalu pulang bareng Kris. It's so absurd", gerutuku saat Jongdae tiba-tiba duduk di sampingku.
Oh ya, aku dan Jongdae belum lama bersahabat. Dulu aku ragu untuk mendekatinya, sebagai sahabat, karena dia lebih sering diikutkan lomba menyanyi oleh guruku. Namun hingga dia bergabung menjadi penggemar sebuah girl group yang nyatanya diketuai olehku, ya beginilah. Jika sekolah memulangkan kami lebih awal, kami berdua langsung berpencar sebagai seorang mata-mata. Namun kami berdua sudah bosan dan akhirnya berhenti hingga waktu yang tak ditentukan.
"Sebagai sahabat yang baik, kita harus selalu bersama apapun dimanapun kapanpun bagaimanapun mengapapun siapapun", inilah yang aku suka dari Jongdae, selera humornya yang mampu membuatku tertawa terjungkal sedangkan yang lain hanya bersenyum biasa, kkaeb song.
"Ya sudah. Sebagai sahabat yang baik, balikin buspassku. Kamu mengambilnya dari tasku tadi pas aku di toilet, kan?", kataku sambil menunjuk dompet Jongdae yang sedang ia genggam.
Aku juga sudah mengetahui gerak-gerik Jongdae jika dia mulai menjahiliku. Di antara semua kejahilannya, yang paling jahil ialah saat ia menelpon ibuku di rumah dan berkata bahwa aku telah mengambil uangnya untuk membeli motor baru. Tapi untuk apa aku tidak bercakap dengan laki-laki dengan rahang yang unik ini? Hari-hariku di sekolah tidak akan bermakna dalam jika tidak berbincang-bincang aneh dengannya.
"Oke. Di sana rumahmu, dan ini kartumu. Hati-hati, nanti kamu jatuh, udah game over", jawab Jongdae sambil memberikan buspassku.
"Sampai bertemu besok.", salam perpisahan kami berdua untuk sementara.
0 comments:
Post a Comment