Chapter One
Aku Byun Baekhyun. Sering disapa Baekhyun, bersekolah di sekolah favorit seantero negeri, digolongkan sebagai siswa yang memiliki keistimewaan tersendiri, hanya mengetahui menyanyi, menyanyi, dan menyanyi, tak pernah menjadi perwakilan sekolah meski selalu masuk siswa terbaik.
Dan selalu berakhir di kantin saat jam matematika dimulai.
--
14 Januari 2013..
Hari pertama kami kembali bersekolah lagi..
Hari pertama kami memakai seragam putih biru tua lagi..
Hari pertama kami menerima pelajaran dari ibu dan bapak guru lagi..
Hari pertama kami makan di kantin bersama lagi..
Hari pertama kami dengan banyak tawa, amarah, tangisan, dan lagi..
Semua hal di 2012 kembali terulang di tanggal ini. Kecuali satu hal.
Hari pertama kami menerima pelajaran tambahan menjelang kematian, Ujian Akhir.
Sudah diberitakan, bahwa yang bukan pihak sekolah yang mengajar sepulang sekolah. Mereka telah memanggil beberapa senior yang masih asing kukenal lebih mendetail sebagai guru sepulang sekolah. Hal ini tentunya menuai pro dan kontra. Ada beberapa siswa yang setuju, ada juga yang lebih memilih bolos selama satu atau dua minggu sepulang sekolah.
Dan kapan mereka mulai di sini?
Semua siswa di kelasku mulai jenuh menunggu senior yang dimaksud. Dijadwalkan mereka akan mengajar kami untuk pertama kalinya pukul 14.30, dan sekarang sudah 13.45. Sudah lebih satu jam kami menunggu mereka. Sudah lebih satu jam uang jajan kami terkuras karena selalu mengisi perut yang kosong. Sudah lebih sejam, aku mendengarkan dan menyanyikan lagu aneh bersama Jongdae, teman senasibku. Dan sudah lebih sejam, aku ingin pulang lebih awal karena hari ini Jongdae mengajakku untuk merayakan ulang tahun adiknya, Jonginã…¡yang notabene lebih dewasa bagi seorang kakak bernama lengkap Kim Jongdae.
Dan akhirnya, satu per satu dari mereka tiba di sekolah. Beberapa dari mereka menggunakan sepeda motor, dan bahkan ada yang menggunakan mobil pribadi. Aku dan beberapa teman yang lain buru-buru masuk ke dalam kelas, takut akan kedatangan bapak konseling yang siap untuk menceramahi kami besok saat Apel Pagi.
Dan mataku tertuju pada sosok pria--tidak--seorang laki-laki yang terlalu tinggi, mata yang terlalu bulat, mengenakan kemeja putih tulang dengan menggulung lengannya, dan terlihat terlalu kekanakan hanya dari raut wajahnya.
Aku berharap bahwa dialah yang masuk di kelasku untuk pertama kalinya.
Aku berharap bahwa dialah yang mengajarku, eye to eye.
Aku berharap bahwa dialah yang bisa membuatku lebih baik.
Aneh juga, seorang siswa jatuh cinta--tidak--mengagumi seorang Mahasiswa lebih dari apapun.
Tetapi ini bukanlah sebuah penghalang.
Semua harapan seorang Siswa yang masih labil kepada seorang kakak--lebih tepatnya seorang Mahasiswa--mulai membanjiri otakku yang penuh dengan semua yang masih belum pantas untuk dipikirkan untuk Siswa seumuranku.
Tapi ternyata harapan itu pupus, satu per satu.
Bukan dia yang masuk di kelasku untuk pertama kalinya.
Dia masuk di kelas Do Kyungsoo, siswa yang baru berani kudekati akhir-akhir ini. Dia selalu dianggap sebagai siswa yang kesurupan setiap saat, karena tatapannya yang selalu kosong. Aku agak khawatir jika Kyungsoo akan menjadi bahan lelucon dari kakak tinggi itu.
Tapi aura ini masih bisa kutahan, meskipun masih ada sedikit. Beberapa saat, seorang kakak yang cukup cantik dan tidak asing bagiku, mulai melangkah menuju kelas kami dan masuk.
“Selamat siang, adik adik!”, sapa kakak itu dan menyimpan beberapa lembaran kertas.
“Siang kak”, balas kami dengan keadaan kelas yang masih kacau.
Kakak itu mulai memperkenalkan dirinya. Dialah kak Kim Taeyeon. Dia merupakan lulusan sekolah kami di tahun 2005, dan ternyata dia pernah kuliah di luar negeri, dan sangat fasih dalam beberapa bahasa. Dia sangat senang bisa mengajar di kelas kami karena kami digolongkan sebagai siswa(i) yang “cerdas” dan “pintar”, huft.
Dia memulai kelas ini dengan menyuruh kami menulis biodata di atas selembar kertas. Aku merobek kertas panjangku itu menjadi dua dan membaginya dengan Jongdae, sebagai sahabat yang baik. Aku mulai menulis biodataku dengan hati-hati agar bisa dibaca oleh kak Taeyeon, nama panggilannya.
Setelahnya, dia mulai membaca biodata teman-temanku satu per satu. Dan dia membeku saat melihat selembar kertas yang ditulis sangat rapi. Dia mencoba untuk memahami nama panggilanku, Baby Baek. Awalnya, nama panggilan itu tidak kusukai karena terlalu kekanak-kanakan, menurutku. Tetapi orang-orang mulai memanggilku dengan nama itu dan aku mulai terbiasa, jadi lebih baik aku tulis nama panggilan tersebut.
Setelah beberapa menit kak Taeyeon menjelaskan tentang Ujian Akhir yang lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya, tetesan air hujan mulai jatuh ke permukaan bumi, lebih tepatnya di sekolahku. Terlalu lebat, kata yang cocok untuk hujan kali ini. Aku bisa 'terjebak' kalau berjalan di bawah hujan itu, dan lagipula aku tidak mau bermandikan air tersebut. Jadi saat pertemuan pertama ini berakhir, kami memutuskan untuk tetap tinggal di sekolah hingga hujan agak reda.
--
16.00
Hujan mulai lebih tenang. Aku bergegas untuk 'menyebrang' ke kelas sepupuku, Bambam. Namanya lumayan aneh. Iya, dia bukanlah orang Korea asli. Aku mencoba untuk memanggilnya lewat jendela, namun dia tak tahu kalau aku sedang memanggilnya. Kurogoh handphone di saku seragamku dan mendengarkan lagi lagu-lagu yang sempat aku hentikan.
Aku putuskan untuk kembali ke kelas. Kak Taeyeon terlihat sangat senang bisa berbincang-bincang dengan temanku yang lain. Tak mau kalah, akupun langsung menerobos dan mengganti topik pembicaraan mereka dengan sesuatu yang lucu. Tawa mereka langsung meledak mendengar skitku. Ya, aku cukup ahli dalam membuat orang tertawa, kadang.
Dan tiba-tiba seorang kakak mengetuk pintu kelas dan mata kami langsung tertuju kepadanya.
Ternyata, kakak yang tadi..
Kakak yang pertama kali kulihat.
Kakak yang ingin kutemui pertama kali.
Dan kakak yang terlihat terlalu kekanak-kanakan.
Aku tak bisa berhenti menatapnya. Dan dia mulai memandangi teman-temanku yang lain saat mereka diam tak bersuara.
Kakak itu mendiskusikan beberapa hal kepada kak Taeyeon. Dari sudut pandangku, kakak cantik itu seperti boneka Barbie yang sedang berbicara dengan temannya, Ken, sayangnya kak Taeyeon lebih pendek dari dia. Di tangan kakak tinggi itu, ada roster ekstrales yang selama ini aku cari. Dengan gugup, aku mendekatinya dan langsung berkata.
“Kak, bisa pinjem rosternya ga? Aku gapunya, jadi bisa dipinjem kan? Difoto doang kok”
Suaraku lebih childlish dari sebelumnya. Satu kelas langsung tertawa terbahak-bahak. Ya aku di sekolah sangatlah dingin, jadi orang sangat canggung untuk berbicara denganku.
Hatiku berdegup kencang setiap kata yang keluar dari bibirku untuknya. Dengan muka yang datar, dia meminjamkanku rosternya. Aku langsung mengambilnya bak mengambil sebuah uang ratusan ribu dan berlari ke mejaku untuk memfotonya.
Kakak tinggi itu, melihatku dengan tatapan yang berbeda.
Selang beberapa waktu, aku mengembalikan rosternya sambil mengucapkan ucapan terima kasih dengan suara yang childlish, lagi.
“Kak, kalo boleh tau, nama kakak siapa?”, tanya beberapa temanku.
Kakak tinggi itu menoleh ke mereka dan mulai untuk memperkenalkan diri.
0 comments:
Post a Comment