Chapter IV
Aku dan Minseok berlari ke sanggar, dan langkahku terhenti saat melihat sosok nan tinggi masuk di sana. Tingginya masih asing di ingatanku, tapi kenapa semua di sekitarku seperti menyebutkan satu nama yang mampu membuatku jatuh terpungkur.
Dengan rambut yang acak-akan, kaos kaki yang pendek sebelah, celana yang mudah dilorot oleh siapapun, oh tidakă…ˇkacamata berlensa minusă…ˇyang ada di atas hidung, dan mulut yang belepotan saat belum sempat menghabiskan es krim di tangan, aku memasuki sanggar dan..
"YA TUHAN TUAN BYUN BAEKHYUN KAU MENGHANCURKAN REPUTASI SAHABATMU INI", teriakan Jongdae yang membuatku harus sandar di pintu. Aku sangat gila jika mendengarnya berteriak, dan itu bisa membuatku tuli.
Ternyata, mereka semua sudah tiba di sini dan memandangiku secara tajam.
"Maaf aku terlambat. Tadi ada kecelakaan sedikit.", ucapku.
"Baekhyun, apakah kau tau? Kak Chanyeol ada di sini", Kyungsoo tiba-tiba memandangku dan mengucapkan kalimat itu.
Es krimku jatuh di karpet sanggar seketika. Mulutku menganga dan kak Chanyeol keluar dari toilet yang ada di belakang gudang.
"Baekhyun, karpetnya..", Kak Chanyeol menunjuk karpet yang kotor karena ulahku.
Sontak, seisi sanggar langsung tertawa terbahak-bahak. Aku benci ditertawakan, dan aku merasa kalian bisa diam atau aku memukul kalian satu per satu.
"Kalian kenapa menertawakan Baekhyun? Apanya yang lucu?", Yixing dengan ekspressi polosnya, heran dengan apa yang terjadi sekarang.
Menyadari hal tadi, aku buru-buru ke toilet untuk mengambil kain pel dan mencoba untuk membersihkan karpet yang dipenuhi oleh es krim di tanganku tadi. Lebih sadar lagi, aku seperti balita yang mencoba membantu mama untuk membersihkan rumah sampai-sampai kak Chanyeol ikut membantuku.
--
14.00
Bel yang berdering selama satu menit menandakan bahwa sekolah untuk hari ini telah berakhir. Semua siswa berhamburan untuk keluar gerbang, termasuk Zitao dan Sehun. Sepuluh detik berlalu hingga seisi sekolah sangat tenang. Aku dan Jongdae menggunakannya untuk menyanyi sambil berjalan di dekat lapangan basket. Saat memandang lapangan itu, sebuah ingatan lama kembali mencuat di pikiranku. Lapangan itu menjadi saksi saat setahun yang lalu, aku dan Sunny, perempuan mungil nan ramah, bermain basket bersama-sama. Aku tahu, kami berdua sangat tidak cocok sebagai atlit basket karena tidak memenuhi 'syarat'. Namun itu bukanlah penghalang, kami berdua latihan hingga suatu hari dia tidak ada di sana.
Rasanya tak mungkin jika Sunny lebih memilih untuk bermain bukan denganku. Namun ternyata aku salah. Suatu hari, saat aku melewati lapangan itu, pandanganku tertuju terhadap sosok perempuan tak asing sedang bermain basket dengan Kris, pemain basket andalan sekolah. Dioperasi tanpa dibius terlebih dahulu pasti sangat sakit, begitulah hatiku saat melihatnya. Aku ingin berteriak, tapi itu akan percuma. Aku hanya bisa menghargai apapun yang Sunny ingin lakukan.
Dan saat itulah, aku tidak menyukai basket lagi.
--
15.00
Ekstrales jam pertama. Aku merasa ada yang salah dengan keadaan fisikku hari ini. Tubuhku lebih berat dari sebelumnya, pandangan yang semakin buram, teriakan yang biasanya aku keluarkan perlahan tak terdengar. Luhan sudah menganjurkanku untuk beristirahat di ruang UKS daripada melakukan 3D (Duduk, Diam, Down). Aku yang sangat kepala batu pun harus menuruti keinginan temanku tersebut.
Waktu istirahat telah tiba dan aku masih di ruang UKS bersama Luhan. Aku pun tak heran jika ia mengetahui cara menggunakan peralatan yang tersimpan rapi di ruang tersebut layaknya seorang dokter. Ia mengambil beberapa alat lalu menggunakannnya agar ia bisa menarik kesimpulan tentang keadaanku saat ini.
Beberapa saat kemudian..
"Kau mengalami demam yang cukup tinggi. Aku tidak mau menjelaskannya lebih rinci lagi tetapi intinya kau harus istirahat total. 2-3 hari mungkin cukup", ucap Luhan saat aku secara refleks melemparnya dengan bantal, sebagai tanda bahwa aku memanggilnya.
"Berani mungkin jika kau menyuruhku untuk beristirahat selama 2-3 hari agar semuanya bisa pulih kembali", gerutuku saat mendengar penuturannya.
"Semoga kau seperti superman, sangat kebal akan semua hal", Luhan terkaget saat aku secara tidak sengaja bangkit dari ranjang UKS.
"Kau tau saja"
--
Matahari mulai merendahkan dirinya. Tidak ada yang baru, selain aku berkacamata. Tak biasanya aku mendapatkan musibah seperti ini. Baru saja aku ingin memanggil Jongdae, apa daya aku tidak mampu melakukannya. Kuputuskan untuk berjalan ke kelas, sendirian.
Di tengah perjalanan..
"Eh, Baekhyun? Kamu kenapa?", suara berat dari belakang itu mengagetkanku dan tak sadar aku jatuh.
"Baekhyun? Baekhyun! Kau baik-baik saja? Baekhyun!", suara yang sama terdengar lagi.
"Seseorang.. tolong aku.. Tolong.. Panggilkan aku.. Kak Chanyeol", aku mencoba meminta pertolongan si suara berat itu.
Dan..
"Baekhyun. Kau.. mencariku?"
Kedipan mata terakhir sempat kurasakan dan pandanganku menangkap sosok tinggi yang sangat khawatir denganku saat ini.
.
.
.
Kak Chanyeol.
--
T/N: setelah tiga tahun ga update ff ini itu sakitnya dimana-mana. Aku ganiat buat ngegantungin storylinenya tapi CHARGER NOTEBOOK LAGI RUSAK so banyak ff yang ready-to-post harus ditunda kedatangannya/? termasuk ff ini ;;;;; Tapi thank you so much for my lovely SILENT READERS, ya baru kali ini bikin ff tapi semuanya SILENT. Coba deh dicomment ff ini, keren ato engga sekaligus kritik, saran, dan pesannya buat aku :p Kalo keren, aku lanjutin, tapi kalo ga ada yang comment, DENGAN BAIK HATI SAYA AKAN MENGHAPUSNYA HA HA HA. Bye awe <3
0 comments:
Post a Comment