.quickedit{ display:none; }

January 07, 2013

Kehidupanku di Angan


Written at March 4th, 2012

Berawal dari tahun ketujuh aku menimba ilmu. Lebih tepatnya, kelas 7. Saat itu, aku masih dibawah pengawasan guru-guruku saat aku masih berada di level dibawah kedudukanku sekarang. Perkenalkan, aku yang bernama Sishi Aresky yang sekarang duduk di bangku sekolah menengah pertama yang cukup terkemuka di kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan. Aku di sini mampu meraih kelas yang cukup sulit untuk ditaklukan, Yaitu, kelas Akselerasi.
Aku saat ini telah memasuki semester genap. Yah, meskipun harus menelan kepahitan saat penerimaan laporan hasil pembelajaranku di semester ganjil yang kedudukan peringkatku tidak mencapai sepuluh besar. Namun, aku mampu belajar dari kegagalan. Kalimat itu mengingatkanku kepada pak Yo’, penuntunku di mata pelajaran Sosiologi dan Ekonomi. Beliau berkata “Salah satu ciri-ciri manusia yang kreatif yaitu mampu belajar dari kegagalan!”. Beliau memang motivator yang lumayan membuatku bersemangat untuk belajar lebih giat lagi.
Aku masih mampu bertahan dalam derasnya kehidupanku saat menuntut ilmu di sekolah. Aku ingin membahas tentang kehidupanku dalam bercinta. Yah, meskipun aku harus menerima kenyataan saat aku memilih pasangan yang menurut orang banyak sangat tidak memadai dengan kepribadianku yang unik namun patut untuk ditelusuri. Tapi, kata boyband asal Indonesia, SM*SH, “Kamu harus selalu Senyum Semangat!!!”. Yah, kalimat itu membekas di dalam Mainboard a’la Shidong. Kata pak Irwan, penuntun TIK di kelasku, “Kalau Mainboard laptop kalian rusak, terpaksa kalian harus merogoh kocek sedalam kurang lebih dua jutaan! Lebih baik, beli laptop lagi!”. Yah, jika kalimat tadi yang Senyum Semangat lenyap atau rusak, otomatis aku langsung memiliki dua pilihan. Yaitu, harus mencari lagi dengan resiko waktu yang lama atau harus memilih kalimat lagi yang lebih memotivasi dibanding ‘Senyum Semangat’.
Cinta. Yah, kata itu sangat membekas dalam Mainboardku. Andaikan kata itu hilang, rasanya hidupku itu sangat sunyi seperti bertapa di dalam gua selama berabad-abad. Kehidupanku di dalam percintaan sangat pahit bagaikan memakan Mengkudu sebanyak satu ton. Kalian tidak mampu membayangkan kehidupanku di percintaan. Namun, kalian mampu membayangkannya secara sederhana, singkat, namun dapat dipahami. Bayangkan jikalau kalian sedang mencari arah alamat seseorang di malam hari. Pastinya harus melewati jembatan, rumah kosong, masyarakat yang tidak jelas, dsb. Begitulah saat aku mencari cinta. Harus melewati rintangan yang menghadang, ketakutan yang menyeramkan, cibiran dari mulut-mulut orang banyak, dsb.
Hobby. Kata itu sangat lucu di dalam Mainboardku. Karena aku memiliki Hobby yang sangat-sangat tidak jelas. Kepribadianku yang unik, stylish, sedikit lucu tetapi tetap imut, dan sedikit feminim. Namun, banyak orang yang tidak tahu kalau aku menyukai olahraga yang mestinya dikerjakan oleh Laki-laki pada umumnya. Yaitu, Karate. Aku lebih memilih Institut Karate-do Nasional atau lebih singkatnya Inkanas Ranting SMP 2 Maros. Menurutku, di sana banyak keunikan tersendiri diantara institut Karate yang lain. Aku yang hanya baru memiliki sabuk Putih, namun pengajar di sana selalu mencariku karena aku mampu mengalahkan Karate-ka* yang lain karena kepiawaianku dalam dasar-dasar, bermain Katak (bukan hewan Katak), dan juga ber Komaite**. Beberapa hari yang lalu saat aku latihan di sekolah, Senpay*** Idris memanggilku dan bertanya bahwa aku mampu menjalani latihan. Dan akhirnya, aku disuruh kepadanya untuk latihan yang membuatku sesampai di rumah menjadi tidak mampu bergerak sebanyak mungkin. Namun, aku harus mengingat ‘Senyum Semangat’ku.
Keberhasilan. Yah, aku masih bingung untuk mencari kata yang satu ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Meskipun harus menguras waktu sangat banyak, namun untuk menggapai kata ini terdapat banyak rintangan. Contohnya, kamu sedang bertanding Badminton dan suporter lawan sangat kritikus banget. Misalnya, suporter lawan berkata, “Huuhh, dasar lu! Cemen!”. Kritikan itu kita mampu membayangkannya secara singkat, sederhana, namun mudah untuk dimengerti. Suporter lawan kita menjadikannya sebagai Semut. Jika kita melihat Semut yang berjalan dan Semut itu tiba-tiba menggigit tubuh kita. Biarkanlah Semut itu menggigiti tubuh kita, nanti dia akan lenyap dengan sendirinya. Begitulah perasaan kita jika sedang bertanding Badminton. Banyak cibiran yang kita hadapi dan didengar. Biarkanlah cibiran itu berlalu. Nanti mereka akan terpenganga karena keberhasilan kita untuk mengalahkan andalan mereka.
Barangkali cuman ini yang mampu aku tulis. Semoga pembaca mampu termotivasi dari pengalaman-pengalaman di atas.
Catatan:
*Karate-ka: Sebutan untuk yang mengikuti Karate [semacam siswa Karate]
**Komaite: Sebutan pertandingan di Karate
***Senpay: Sebutan untuk ‘Guru’ dalam Karate

0 comments: