Written
at March 4th, 2012
Berawal
dari tahun ketujuh aku menimba ilmu. Lebih tepatnya, kelas 7. Saat itu, aku
masih dibawah pengawasan guru-guruku saat aku masih berada di level dibawah
kedudukanku sekarang. Perkenalkan, aku yang bernama Sishi Aresky yang sekarang
duduk di bangku sekolah menengah pertama yang cukup terkemuka di kabupaten
Maros, provinsi Sulawesi Selatan. Aku di sini mampu meraih kelas yang cukup
sulit untuk ditaklukan,
Yaitu, kelas Akselerasi.
Aku
saat ini telah memasuki semester genap. Yah, meskipun harus menelan kepahitan
saat penerimaan laporan hasil pembelajaranku di semester ganjil yang kedudukan
peringkatku tidak mencapai sepuluh besar. Namun, aku mampu belajar dari
kegagalan. Kalimat itu mengingatkanku kepada pak Yo’, penuntunku di mata
pelajaran Sosiologi dan Ekonomi. Beliau berkata “Salah satu ciri-ciri manusia
yang kreatif yaitu mampu belajar dari kegagalan!”. Beliau memang motivator yang
lumayan membuatku bersemangat untuk belajar lebih giat lagi.
Aku
masih mampu bertahan dalam derasnya kehidupanku saat menuntut ilmu di sekolah.
Aku ingin membahas tentang kehidupanku dalam bercinta. Yah, meskipun aku harus
menerima kenyataan saat aku memilih pasangan yang menurut orang banyak sangat
tidak memadai dengan kepribadianku yang unik namun patut untuk ditelusuri. Tapi,
kata boyband asal Indonesia, SM*SH, “Kamu harus selalu Senyum Semangat!!!”.
Yah, kalimat itu membekas di dalam Mainboard a’la Shidong. Kata pak Irwan,
penuntun TIK di kelasku, “Kalau Mainboard laptop kalian rusak, terpaksa kalian
harus merogoh kocek sedalam kurang lebih dua jutaan! Lebih baik, beli laptop
lagi!”. Yah, jika kalimat tadi yang Senyum Semangat lenyap atau rusak, otomatis
aku langsung memiliki dua pilihan. Yaitu, harus mencari lagi dengan resiko
waktu yang lama atau harus memilih kalimat lagi yang lebih memotivasi dibanding
‘Senyum Semangat’.
Cinta.
Yah, kata itu sangat membekas dalam Mainboardku. Andaikan kata itu hilang,
rasanya hidupku itu sangat sunyi seperti bertapa di dalam gua selama
berabad-abad. Kehidupanku di dalam percintaan sangat pahit bagaikan memakan Mengkudu sebanyak
satu ton. Kalian tidak mampu membayangkan kehidupanku di percintaan. Namun,
kalian mampu membayangkannya secara sederhana, singkat, namun dapat dipahami.
Bayangkan jikalau kalian sedang mencari arah alamat seseorang di malam hari.
Pastinya harus melewati jembatan, rumah kosong, masyarakat yang tidak jelas,
dsb. Begitulah saat aku mencari cinta. Harus melewati rintangan yang
menghadang, ketakutan yang menyeramkan, cibiran dari mulut-mulut orang banyak,
dsb.
Hobby.
Kata itu sangat lucu di dalam Mainboardku. Karena aku memiliki Hobby yang
sangat-sangat tidak jelas. Kepribadianku yang unik, stylish, sedikit
lucu tetapi tetap imut, dan sedikit feminim. Namun, banyak orang yang tidak
tahu kalau aku menyukai olahraga yang mestinya dikerjakan oleh Laki-laki pada
umumnya. Yaitu, Karate. Aku lebih memilih Institut Karate-do Nasional atau
lebih singkatnya Inkanas Ranting SMP 2 Maros. Menurutku, di sana banyak
keunikan tersendiri diantara institut Karate yang lain. Aku yang hanya baru
memiliki sabuk Putih, namun pengajar di sana selalu mencariku karena aku mampu
mengalahkan Karate-ka* yang lain karena kepiawaianku dalam dasar-dasar, bermain
Katak (bukan hewan Katak), dan juga ber Komaite**. Beberapa hari yang lalu saat
aku latihan di sekolah, Senpay***
Idris memanggilku dan bertanya bahwa aku mampu menjalani latihan. Dan akhirnya,
aku disuruh kepadanya untuk latihan yang membuatku sesampai di rumah menjadi
tidak mampu bergerak sebanyak mungkin. Namun, aku harus mengingat ‘Senyum
Semangat’ku.
Keberhasilan.
Yah, aku masih bingung untuk mencari kata yang satu ini membutuhkan waktu yang
sangat lama. Meskipun harus menguras waktu sangat banyak, namun untuk menggapai
kata ini terdapat banyak rintangan. Contohnya, kamu sedang bertanding Badminton
dan suporter lawan sangat kritikus banget. Misalnya, suporter lawan berkata,
“Huuhh, dasar lu!
Cemen!”. Kritikan itu kita mampu membayangkannya secara singkat, sederhana,
namun mudah untuk dimengerti. Suporter lawan kita menjadikannya sebagai Semut.
Jika kita melihat Semut yang berjalan dan Semut itu tiba-tiba menggigit tubuh
kita. Biarkanlah Semut itu menggigiti tubuh kita, nanti dia akan lenyap dengan
sendirinya. Begitulah perasaan kita jika sedang bertanding Badminton. Banyak
cibiran yang kita hadapi dan didengar. Biarkanlah cibiran itu berlalu. Nanti
mereka akan terpenganga karena keberhasilan kita untuk mengalahkan andalan
mereka.
Barangkali
cuman ini yang mampu aku tulis. Semoga pembaca mampu termotivasi dari
pengalaman-pengalaman di atas.
Catatan:
*Karate-ka: Sebutan
untuk yang mengikuti Karate [semacam siswa Karate]
**Komaite: Sebutan
pertandingan di Karate
***Senpay: Sebutan untuk ‘Guru’ dalam Karate
0 comments:
Post a Comment