.quickedit{ display:none; }

January 07, 2013

Hidup yang Tak Memungkinkan


 Manusia masih bingung untuk menentukan kehidupannya di masa yang akan datang. Kita mampu merumpamakan dengan bermain sebuah permainan di laptop atau komputer. Kita pasti penasaran, apakah saya akan lolos di tahap selanjutnya atau tinggal lagi di tempat tadi. Begitulah manusia, mereka masih bingung atau masih dalam tanda Tanya yang besar. Apakah mereka akan sukses atau malah sebaliknya?

Manusia masih heran dengan semua yang dilakukan oleh orang-orang yang lebih hebat daripada dirinya sendiri. Kenapa manusia memusingi urusan orang lain? Mestinya, dia tidak melakukan hal yang sebodoh itu. Semestinya, manusia selalu berfikir ke depan. Misalnya, jika kita sedang mengendarai kendaraan motor, seperti Mobil maupun Motor. Kita harus fokus ke depan, tertuju kepada arah jalanan. Jika kita sedikit saja menengok secara sembarangan, akibatnya bisa fatal. Kemungkinan besar, kecelakaan tunggal, kecelakaan beruntun, bahkan bisa kecelakaan yang sangat tragis. Begitu juga manusia. Mereka mestinya selalu berfikir ke depan, bukan malah berfikir ke arah orang lain. Jikalau mereka memikirkan orang lain, maka saat waktu itulah mereka menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga.
Manusia sebenarnya memiliki keberkahan yang sama dari Tuhan YME. Namun, beberapa orang tidak mengambil keberkahan yang telah dibagi rata kepada seluruh manusia di permukaan bumi ini. Entah mengapa mereka yang telah menyia-nyiakannya lebih memilih menolak daripada menerima. Barangkali contohnya seperti para pengemis yang kerjanya hanya meminta-minta hanya untuk membuat orang-orang yang lain menjadi iba. Mereka sama sekali tidak menggunakan tenaganya. Kerjaanya hanya mengulurkan tangan dan berkata, “Pak, bu! Kasihani saya, bu, pak! Sudah 3 hari saya belum makan!”. Kalimat ini adalah kalimat yang menurut kebanyakan orang sangat sangat Kurang Kerjaan. Namun, tidak semua  para pengemis berkata jujur. Ada juga yang hanya ingin mencari iba. Namun, di antara semua pengemis yang tersebar di tempat-tempat umum, ternyata ada juga yang dipaksa untuk menjadi pengemis. Mereka diculik oleh orang-orang yang barangkali tanpa hati dan perasaan. Lalu, mereka yang tak berdosa ditampung ke sebuah rumah yang biasanya diberi nama ‘Gubuk’.
Semestinya, seorang manusia mampu menjadi yang terbaik diantara orang lain. Lihatlah bapak kita, BJ Habibie. Ia sangat mendunia layaknya seorang selebritis. Meskipun beliau terlahir dari keluarga sederhana, namun ternyata beliau mampu membuat negeri ini sangat mendunia. Sekarang, beliau mampu membuat keberhasilan di kedudukannya sekarang. Beliau sekarang bermukim di negeri yang memiliki tembok Berlin, Jerman. Saya teringat kepada kepala sekolah saya yang sekarang, Andi Anshar, S. Pd. Ia berkata kepada seluruh siswa saat beberapa guru MaPel yang mestinya mengajar di kelas saya. Beliau berkata, “Kini lihatlah, beberapa penduduk Indonesia mampu membuat segala alat-alat yang kita butuhkan. Bahkan, kita mampu membuat pesawat tempur yang super. Semestinya, kita mampu meneruskan ini agar Indonesia semakin maju.”.
Setiap manusia yang telah diberikan kelebihan yang berbeda-beda oleh Tuhan YME mestinya patut menyukurinya. Bukan untuk dijadikan alat untuk menyombongkan diri. Dan pastinya setiap manusia memiliki kekurangan yang berbeda-beda oleh Tuhan YME. Namun, beberapa orang beranggapan bahwa kekurangan ini merupakan penghambat dalam menjalani kehidupannya. Tidak halnya kepada para penyandang Cacat. Meskipun memiliki fisik yang tidak sempurna seperti kita semua, namun mereka mampu mmbuat negaranya menjadi mendunia. Beberapa penyandang Cacat mampu menyaingi kehebatan daripada kita semua. Contohnya, seorang atlet lompat jauh yang memiliki kaki yang tidak sempurna. Namun, itu tidak menjadi penghalang bagi kariernya. Ia mampu melompat lebih tinggi dibanding atlet-atlet lain yang memiliki kaki yang sempurna.

0 comments: